Bagi penerjemah tersumpah, penerjemahan merupakan rangkaian proses belajar yang terus bergerak tiada henti melalui tahapan naluri (kesiapan yang tidak terarah), pengalaman (keterlibatan dengan dunia nyata), dan kebiasaan (“ketepatan tindakan”), dan di dalam pengalaman sendiri melalui tahapan abduksi (menebak-nebak), induksi (pembentukan pola), dan deduksi (kaidah, hukum, teori); penerjemah adalah seorang profesional yang proses batin yang kompleks baginya telah menjadi kebiasaan yang sudah melekat (sehingga bersifat bawah sadar), sekaligus seorang pembelajar (learner) yang harus terus-menerus menghadapi persoalan-persoalan baru dan memecahkannya secara sadar dan analitis.

Kumparan: Pengalaman dan Kebiasaan

Dianggap penerjemah karena sudah mempelajari bermacam-macam pola memori dan gaya menerjemah menakjubkan yang menunjang semua aktivitas manusia, termasuk kegiatan menerjemah naskah (translator) dan menerjemah video (interpreter) atau bahkan penerjemah yang mengelola jasa penerjemah. Kita mengingat informasi, cara kita berperilaku, fakta, dan perasaan kita (dan bagaimana perasaan kita terhadap fakta-fakta tertentu). Kita mengingat sesuatu dengan lebih baik di dalam konteks tempat kita mempelajarinya. Ingatan kita sangat dibantu oleh relevansi atau keterkaitan konteks dengan dunia nyata. Kita punya preferensi (kecenderungan cita rasa pribadi) terhadap konteks-konteks tempat kita mempelajari segala sesuatu, saluran-saluran indrawi yang menghubungkan kita dengan hal-hal tersebut, serta cara kita mengolah dan meresponsnya. Beberapa dari pola dan preferensi ini bekerja baik dengan kesadaran analitis (analytical awareness) yang sadar sepenuhnya akan hal yang sedang kita kerjakan; sebagian besar di antaranya bekerja paling efektif secara bawah sadar, di bawah kesadaran kita.

Dalam bab ini, informasi umum tentang memori dan pembelajaran tadi akan kita kerucutkan menjadi sebuah model proses penerjemahan yang digunakan penerjemah: cara penerjemah mengendalikan preferensi idiosinkratis dan kebiasaannya sendiri menjadi prosedur umum untuk mengubah teks sumber menjadi teks sasaran yang efektif. Pendeknya, model tersebut menggambarkan aktivitas penerjemah di antara dua proses dan keadaan batin yang sangat berbeda: (1) keadaan “mengalir” bawah sadar (subliminal), yang tampaknya seakan-akan sipenerjemah tidak berpikir sedikit pun, seolah-olah jari-jari penerjemah atau mulut juru bahasalah yang bekerja supaya penerjemah bisa melamun sementara tubuhnya menerjemahkan; dan (2) keadaan menganalisis dengan kesadaran tinggi (highly conscious), saat penerjemah memeriksa kembali daftar sinonim secara batin, mencari kata di dalam kamus, ensiklopedi, dan karya referensi lain, memeriksa buku tata bahasa, menganalisis struktur kalimat, medan makna (se mantic fields), pragmatik budaya, dan seterusnya.

Keadaan bawah sadar (subliminal state) merupakan keadaan yang memungkinkan penerjemah mencari naf kah lewat pekerjaan ini. Penerjemah profesional bekerja amat cepat, dan seperti kita ketahui dari Bab 2, bertambahnya kecepatan berarti bertambahnya penghasilan. Ke adaan bawah sadar bekerja dengan baik sekali bila tidak dijumpai masalah pada teks sumber atau bila masalahnya sudah cukup familiar untuk diselesaikan tanpa analisis alam sadar. Keadaan analitis (analytical state) memberikan penerjemah reputasi sebagai penerjemah yang jujur dan cakap. Kinerjanya sangat lambat, barangkali pada kasus-kasus tertentu melenyapkan penghasilan freelancer (penerjemah lepas), tetapi tampaknya, penerjemah tidak akan pernah mampu menyelesaikan pekerjaan yang sulit dan mem buat banyak kesalahan pada pekerjaan yang mudah sekalipun, sehingga cepat atau lambat penghasilannya akan hilang juga.

Kiasan kumparan diambil dari proses menenun, tentu saja. Kumparan adalah balok kayu yang ditarik bolak balik pada perkakas tenun dengan membawa benang horisontal atau benang-silang di antara benang-benang ter pisah pada kain tenun. Kiasan ini mungkin membuat proses penerjemahan terdengar mekanis seperti menarik balok kayu bolak-balik. Proses penerjemahan tentu saja tidaklah mekanis. Kiasan ini mungkin juga membuat proses penerjemahan tampak bagaikan dua keadaan yang sama sekali berbeda dan berlawanan, seperti sisi kiri dan kanan alat tenun. Keduanya memang berbeda, tetapi tidak sama se kali atau benar-benar demikian. Bahkan, keduanya ter cipta dari banyak materi analisis dan pengalaman yang sama, yang akan kita bicarakan secara detail pada Bab 5 11: pengalaman dengan bahasa, kebudayaan, orang, penerjemahan; analisis tekstual, psikologis, sosial, dan kultural. Perbedaan di antara keduanya sebagian besar terletak pada cara materi analisis/pengalaman itu disimpan dan dipanggil kembali untuk digunakan. Pada keadaan bawah sadar, materi ini diubah menjadi kebiasaan (habit), “kebiasaan yang sudah melekat (second nature),” memori prosedural; pada keadaan analisis, materi ini dikembalikan dari kebiasaan menjadi memori representasional dan ana lisis alam sadar dengan seksama.