Apa yang Menjadi Penyebab Hikikomori Jepang?

Mengurung diri di didalam kamar jadi perihal yang biasa kala seorang anak marah kepada orang tua. Namun, bagaimana kecuali mereka mengurung diri di didalam kamar sepanjang berbulan-bulan dan lebih-lebih bertahun-tahun? Fenomena inilah yang dikenal dengan istilah hikikomori di negara Jepang. Para hikikomori tersebut memilih untuk menarik diri dari pergaulan sosial dan biasa menggunakan waktunya dengan beraktivitas di didalam kamar.

Hikikomori jadi fenomena yang benar-benar diwaspadai oleh penduduk Jepang atau yang sedang magang di Jepang. Menurut survei yang dikerjakan oleh Japanese Cabinet Office terhadap 2010, terdapat tidak cukup lebih 700 ribu penduduk Jepang memilih untuk jadi hikikomori. Dulu, para hikikomori tersebut biasanya berusia 21 tahun. Saat ini, kondisinya meningkat, jadi biasanya berumur 32 tahun.

Apa yang Menjadi Penyebab Hikikomori?
Hikikomori adalah keliru satu tipe masalah mental. Mereka yang menderita masalah ini memutuskan untuk menarik diri dari pergaulan dengan orang-orang di sekitarnya. Bahkan, mereka mulai was-was nampak dari kamar atau bertemu dengan orang lain. Selanjutnya, mereka sesudah itu memilih untuk tidur di sepanjang hari dan saksikan TV di didalam kamar kala malam hari.
Seorang yang menderita masalah hikikomori bukan berarti senantiasa menggunakan waktunya di didalam kamar. Terkadang, anda termasuk mampu mendapati seorang hikikomori yang sesekali nampak kamar ataupun nampak rumah. Hal itu mereka melakukan kala dambakan melacak makan. Meski, terhadap banyak kasus, para hikikomori lebih memilih untuk membeli online didalam memenuhi kebutuhan dasarnya.

Gangguan mental hikikomori umumnya nampak terhadap anak muda yang berasal dari segmen ekonomi menengah. Kasus ini hampir senantiasa nampak terhadap laki-laki. Fakta yang lumayan menarik, persoalan ini lebih sering nampak terhadap anak muda yang punya orang tua dengan latar belakang pendidikan lulusan perguruan tinggi. Durasi pengurungan diri yang dikerjakan seorang hikikomori lumayan beragam, mulai dari sebagian bulan hingga puluhan tahun.
Lalu, apa yang jadi penyebab timbulnya masalah hikikomori tersebut? Gangguan mental ini umumnya nampak kala seseorang mulai menyalahkan dirinya karena tidak mampu memenuhi target yang diinginkan oleh orang di sekitarnya—terutama orang tua. Karena rasa bersalah tersebut, mereka memilih untuk berhenti sekolah atau enggan melacak kerja.
Pilihan jadi hikikomori itu termasuk mampu nampak kala seseorang jadi korban bullying atau tekanan sosial. Keputusan untuk menarik diri itu mampu saja berlangsung secara tiba-tiba atau perlahan. Dibandingkan dengan negara lain, jumlah hikikomori di Jepang sebetulnya jauh lebih tinggi. Ada 2 faktor utama yang menyebabkan hikikomori jadi fenomena yang begitu masif di Jepang, yakni:

1. Sekentei
Hikikomori di Jepang berlangsung karena istilah yang disebut “sekentei”. Istilah ini adalah upaya untuk menjaga reputasi diri sendiri dan juga terdapatnya tekanan untuk menampilkan kesan positif di mata orang lain.

2. Amae
Faktor seterusnya adalah “amae” atau ketergantungan. Seorang hikikomori umumnya punya pembawaan ketergantungan tinggi kepada orang yang menyayanginya—biasanya adalah ibu. Mereka sering tunjukkan pembawaan seperti anak kecil yang bakal bersikap agresif kala tidak mendapatkan perihal yang diinginkan.

Hikikomori sebetulnya jadi fenomena yang sering nampak di Jepang. Namun, persoalan mirip termasuk kini nampak di negara lain, termasuk di antaranya adalah Taiwan, Korea Selatan, dan juga Italia. Seperti halnya masalah mental lain, hikikomori mampu disembuhkan. Hanya saja, untuk mendorong kesembuhan seorang hikikomori, umumnya dibutuhkan perlindungan dari orang-orang di sekitar. Alih-alih memaksa hikikomori nampak dari kamar, langkah yang tepat adalah menata lagi pertalian pada anak dengan orang tua.